Skip to main content

Memahami Teori komunikasi dan proses inquiry

yap kali ini kita bahas tentang teori teori duh kenapa hidup ini penuh dengan teori yaa ^_^
hmm langsung saja deh ..

Teori dan Teori Komunikasi
- Teori merupakan pijakan akademis (academic foundation) dari setiap disiplin ilmu.
- Teori penting, karena teori merupakan sarana kita mengorganisasikan apa yang kita ketahui.
- Teori memungkinkan kita merubah informasi menjadi pengetahuan.

Teori dan Teori Komunikasi

- Teori tidak sekadar sebuah penjelasan.
- Teori adalah sebuah cara mengemas realitas.
- Teori adalah sebuah cara memahami realitas.
- Orang selalu merepresentasikan realitas secara simbolik.
- Kita selalu menjalankannya dalam ranah teori.

Teori dan Teori Komunikasi
- Teori adalah sebuah sistem pemikiran, sebuah cara melihat.
- Kita tidak pernah “melihat” realitas secara murni.
- Kita harus menggunakan seperangkat konsep dan simbol untuk mendefinisikan apa yang kita lihat.
- Teori memberikan lensa dimana kita mengobservasi “dunia”.

Teori dan Teori Komunikasi

Definisi Teori:
- Usaha untuk menjelaskan atau merepresentasikan pengalaman.
- Gagasan tentang bagaimana suatu peristiwa terjadi.

Fungsi Teori:
--= Memandu pemahaman dan tindakan kita.

Teori dan Teori Komunikasi

- Mengidentifikasi pola-pola kejadian, sehingga kita mengerti apa yang kita harapkan.
- Mengarahkan perhatian kita pada aspek-aspek penting dari kehidupan sehari-hari.
- Membantu kita memutuskan apa yang penting dan tidak penting.

Teori dan Teori Komunikasi

- Memungkinkan kita memprediksi apa yang akan terjadi kemudian.
- Teori komunikasi: teori tunggal atau kearifan kolektif (collective wisdom) yang ditemukan dalam keseluruhan        teori yang terkait dengan komunikasi.

Teori dan Teori Komunikasi

- Mengapa mempelajari teori komunikasi?
- Komunikasi merupakan aspek penting dan kompleks dalam kehidupan manusia.
- Kehidupan kita sehari-hari sangat dipengaruhi oleh komunikasi kita dengan orang lain.
  Teori dan Teori Komunikasi
- Mengembangkan pemahaman terhadap beragam teori komunikasi, memungkinkan kita dapat                             menginterpretasikan peristiwa dengan cara yang lebih luwes dan bermanfaat.
- Teori komunikasi memberikan seperangkat alat yang berguna untuk melihat hal-hal yang baru.

Proses Inquiry
- Inquiry: studi sistematis tentang pengalaman untuk menuju kepada pemahaman, pengetahuan dan teori.
- Orang terikat dengan inquiry ketika berusaha mengetahui sesuatu dalam cara yang tertata.
- Inquiry mencakup 3 tahapan: asking questions, observation dan constructing answer.

Proses Inquiry

- Asking questions: proses mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menarik dan signifikan.
- Questions of definition: mengklarifikasi apa yang diobservasi.
- Questions of fact: properti dan relasi tentang apa yang diobservasi.
- Questions of value: kualitas-kualitas estetik, pragmatik dan etik.

Proses Inquiry
- Observation: ilmuwan berusaha mencari jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.
- Metoda observasi akan berubah secara signifikan dari satu tradisi ke tradisi lain.
- Observasi melalui pengkajian catatan-catatan dan artefak; keterlibatan pribadi, instrumen dan eksperimentasi       yang dikontrol, wawancara dll.

Proses Inquiry
- Constructing answer: ilmuwan berusaha mendefinisikan, menerangkan dan menjelaskan guna membuat             penilaian dan interpretasi tentang apa yang diobservasi.
- Tahapan constructing answer dikenal sebagai teori.
- Tahapan inquiry tidak dipahami secara linier. Setiap tahapan saling mempengaruhi.

Proses Inquiry
- Observasi menstimulasi munculnya pertanyaan-pertanyaan baru.
- Teori-teori diperdebatkan melalui observasi dan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.
- Teori-teori mengarah pada pertanyaan-pertanyaan baru.

Metoda Inquiry
- Scientific Scholarship.
- Humanistic Scholarship.
- Social-Scientific Scholarship.
- Communication as a Social Science.

Scientific Scholarship
- Ilmu sering diasosiasikan dengan obyektivitas. Apakah ilmu memang obyektif?
- Jika obyektivitas dimaknai sebagai suspensi nilai-nilai, maka ilmu tidak obyektif.
- Jika obyektivitas dimaknai sebagai standardisasi, maka ilmu sesungguhnya obyektif atau bertujuan untuk               menjadi obyektif.

Scientific Scholarship
- Ilmuwan berusaha melihat “dunia” (realitas) seperti yang dilakukan pengamat lain.
- Dilatih dalam cara yang sama dan memakai metoda yang sama pula.
- Replikasi dari sebuah studi seharusnya menciptakan hasil yang sama.

Scientific Scholarship
- Standardisasi dan replikasi penting dalam ilmu, karena:
- Ilmuwan mengasumsikan bahwa “dunia” memiliki bentuk yang dapat diobservasi.
- “Dunia” menunggu untuk ditemukan.
- Tujuan ilmu adalah mengobservasi dan menjelaskan “dunia” seakurat mungkin.

Humanistic Scholarship
- Jika ilmu diasosiasikan dengan obyektivitas, maka humanistik diasosiasikan dengan subyektivitas.
- Jika ilmu bertujuan untuk menstndardisasi, maka humanistik mencari individualitas yang kreatif.
- Jika tujuan ilmu untuk mengurangi perbedaan tentang realitas yang diobservasi, maka tujuan humanistik adalah   memahami respon subyektif individu.

Humanistic Scholarship
- Jika ilmu merupakan aktivitas out there, maka humanistik merupakan aktivitas in here.
- Jika ilmu memfokuskan pada penemuan “dunia”, maka humanistik memfokuskan pada penemuan “orang”.
- Jika ilmu berusaha mencapai konsensus, maka humanistik berusaha mencari interpretasi alternatif.

Humanistic Scholarship
- Ilmu dan humanistik tidak terpisah secara tegas.
- Hampir setiap penelitian dan bangunan teori mencakup aspek-aspek dari kajian ilmiah dan humanistik.

Social-Scientific Scholarship 
- Banyak ilmuwan sosial melihatnya sebagai perluasan ilmu alam, karena memakai metoda dari fisika.
- Namun, ilmu sosial adalah dunia yang terpisah.
- Ilmu sosial mencakup elemen-elemen dari ilmu dan humanistik, tetapi berbeda dengan keduanya.

Social-Scientific Scholarship
- Dalam mengobservasi dan menginterpretasikan pola-pola perilaku manusia, ilmuwan sosial menjadikan               manusia sebagai obyek studi.
- Untuk memahami perilaku manusia, ilmuwan sosial harus mengobservasinya.
- Jika pola-pola perilaku itu ada, maka observasi harus dilakukan seobyektif mungkin.

Social-Scientific Scholarship
- Ilmuwan sosial, seperti halnya ilmuwan alam, harus memantapkan konsensus tentang apa yang diobservasi.
- Ketika fenomena perilaku diobservasi, maka fenomena itu harus dijelaskan atau diinterpretasikan.
- Interpretasi dipersulit oleh fakta bahwa obyek observasi (manusia) merupakan individu-individu yang aktif.

Social-Scientific Scholarship
- Tidak seperti obyek dalam dunia alam, manusia memiliki pengetahuan, nilai-nilai, melakukan interpretasi dan       bertindak.
- Dapatkah eksplanasi “ilmiah” tentang perilaku manusia berlangsung tanpa mempertimbangkan pengetahuan         “humanistik” tentang orang yang diobservasi?
- Pertanyaan tersebut merupakan isu filosofis utama dalam ilmu sosial.

Communication as a Social Science
- Komunikasi mencakup pemahaman tentang bagaimana orang berperilaku dalam menciptakan, mempertukarkan   dan menginterpretasikan pesan.
- Konsekuensinya, studi komunikasi perlu mengkombinasikan metoda ilmiah dan humanistik.

Comments

Popular posts from this blog

Ciri-Ciri Komunikasi Antar Pribadi

Komunikasi antarpribadi bersifat dialogis, dalam arti arus balik antara komunikator dengan komunikan terjadi langsung, sehingga pada saat itu juga komunikator dapat mengetahui secara langsung tanggapan dari komunikan, dan secara pasti akan mengetahui apakah komunikasinya positif, negatif dan berhasil atau tidak. Apabila tidak berhasil, maka komunikator dapat memberi kesempatan kepada komunikan untuk bertanya seluas-luasnya. Sebagaimana yang telah dikemukakan dalam penegasan istilah, penelitian ini lebih ditekankan pada dimensi psikologis perilaku komunikasi antarpribadi siswa. Sehingga secara psikologis perilaku komunikasi antarpribadi siswa meliputi keterbukaan, empati, dukungan, rasa positif dan kesetaraan. Berikut ini merupakan ciri-ciri efektifitas komunikasi antarpribadi menurut Kumar (Wiryanto, 2005: 36) dan De vito (Sugiyo, 2005: 4) bahwa ciri-ciri komunikasi antarpribadi tersebut yaitu: Keterbukaan (Openess), yaitu kemauan menanggapi dengan senang hati informasi yang dit...

Seorang Penggemar Menggelar Petisi Untuk Mengganti Desain Karakter ‘Digimon Tri’

Desain terbaru untuk karakter dalam anime “ Digimon Tri ” memang cukup mengundang kontroversi dari berbagai pihak. Desain yang dibuat oleh  Atsuya Uki  memang jauh berbeda bila dibandingkan dengan desain milik  Katsuyoshi Nakatsuru . Mungkin hal ini dimaksudkan supaya ada perubahan wajah dari anak-anak ke masa remaja; dan supaya penggemar tidak bosan dengan desain yang lama. Namun, bagai 2 macam sisi koin, ada penggemar yang tidak puas dengan desain tersebut dan  membuat desain versinya sendiri  yang disamakan dengan desain awal seri Digimon. Desain tersebut sepertinya menuai reaksi yang cukup baik sehingga seorang penggemar  membuat sebuah petisi  yang dimaksudkan untuk mengganti desain karakter yang sudah ada dengan desain karakter yang menurutnya lebih baik. Menurut pemilik petisi,  Ebisu , setelah melihat trailer yang ditayangkan untuk film ‘Digimon Tri’, dia merasa banyak reaksi ‘kurang nyaman’ dari berbagai pihak. Seper...